Kabar Berita

Ular Jadi Hewan Terapi di Brazil

Seekor ular boa constrictor kuning kecoklatan melingkari leher David de Oliveira Gomes seperti syal. Bukannya takut, remaja Brazil berusia 15 tahun yang menyandang autisme itu malah terpesona. Baginya, ini adalah terapi.

Sambil memegang lembut ular besar yang melata di sekitarnya, Gomes memberitahu terapisnya di sebuah pusat perawatan di Sao Paulo bahwa ularnya bernama Gold dan makanannya adalah tikus.

Inilah kata-kata yang ingin didengar oleh terapisnya, Andrea Ribeiro.

Ia berspesialisasi dalam merawat orang-orang dengan disabilitas, autisme atau anxiety, dengan metode yang tidak biasa: terapi reptile, yang menurutnya membuat para pasien rileks dan meningkatkan kemampuan komunikasi, motorik dan lain-lainnya.

Perempuan berusia 51 tahun yang menjadi terapis wicara itu mengatakan Gomes sedang belajar berbicara dan mengingat. Mereka berdua duduk di meja yang sama beserta dengan ular besar itu.

Seekor boa constrictor di Proyek Boa di San Bernardino, Paraguay, 12 Februari 2022. (NORBERTO DUARTE/AFP)

Seekor boa constrictor di Proyek Boa di San Bernardino, Paraguay, 12 Februari 2022. (NORBERTO DUARTE/AFP)

Ribeiro memelopori metode ini selama dekade terakhir di pusat perawatan, yang menampilkan ruang terbuka di mana pasien berinteraksi dengan kadal, kura-kura dan jacare, semacam buaya asli Amerika Latin yang umum ditemukan di Brazil, termasuk di hutan tropis Amazon.

Perawatan itu belum terbukti secara ilmiah.

“Tetapi secara medis ini menunjukkan bahwa dalam 10 menit pertama setelah memulai kontak dengan hewan, neurotransmitter seperti serotonin dan beta-endorfin dilepaskan yang memberi perasaan senang dan nyaman. Ini yang membuat pasien mereka senang dan ingin belajar,” jelasnya.

Reptil itu membuat pasien mencapai hasil yang lebih baik dan lebih cepat, katanya kepada AFP.

Ribeiro pernah menggunakan anjing dalam sesi terapinya. Tetapi ia mendapatkan hewan terus terus menerus ingin bermain dan berinteraksi yang membuat sebagian pasien merasa tidak nyaman, terutama penyandang autism.

Karena itu ia beralih ke hewan reptile. Ini adalah jenis hewan yang membuat banyak orang merasa geli. Tetapi penyandang autism cenderung mendekati hewan tersebut “tanpa prasangka,” katanya. Hewan-hewan itu memicu keingintahuan mereka tanpa membuat mereka merasa tak nyaman. Reptil sendiri “tidak peduli, tidak mencari perhatian seperti pada mamalia,” lanjutnya.

Ahli biologi Beatriz Araujo merawat pasien David de Oliveira Gomes dalam terapi dengan reptil di klinik Walking Equotherapy di Sao Paulo, Brazil, pada 30 Mei 2023. (Nelson ALMEIDA/AFP)

Ahli biologi Beatriz Araujo merawat pasien David de Oliveira Gomes dalam terapi dengan reptil di klinik Walking Equotherapy di Sao Paulo, Brazil, pada 30 Mei 2023. (Nelson ALMEIDA/AFP)

Gabriel Pinheiro yang berusaha sepuluh tahun bermain-main dengan seekor buaya kecil, sambil berusaha menirukan kata-kata Ribeiro dengan membuka mulutnya lebar-lebar tiga kali, “Ja-ca-re.”

Basah, kata Pinheiro. Matanya terpaku pada makhluk itu dari balik kacamatanya. Sisik buaya itu “keras,” perutnya “lembut,” katanya, sementara terapis membantunya belajar lawan kata.

Ia dan Ribeiro kemudian menyanyikan lagu tentang jacare untuk mempraktikkan keterampilan mengingat suara.

Ibunda Pinheiro, Cristina, memuji terapi selama empat tahun ini yang membantu putranya meningkatkan kemampuan mendengar, komunikasi dan motoriknya. Ia mengatakan putranya selalu dalam keadaan gembira sewaktu datang untuk terapi.
Pasien lainnya, Paulo Palacio Santos (34), mengalami kerusakan otak parah dalam kecelakaan yang membuatnya lumpuh dan tak mampu berbicara.

David de Oliveira Gomes saat terapi dengan reptil di Walking Equotherapy Clinic di Sao Paulo, Brazil, pada 30 Mei 2023. (Nelson ALMEIDA/AFP)

David de Oliveira Gomes saat terapi dengan reptil di Walking Equotherapy Clinic di Sao Paulo, Brazil, pada 30 Mei 2023. (Nelson ALMEIDA/AFP)

Ribeiro menangkupkan ular gemuk ke wajahnya. Berat dan kulit dingin ular itu membantu mengaktifkan kembali reflex menelan Santos, ujarnya. Ia kemudian menggunakan seekor boa constrictor berukuran lebih kecil untuk melatih otot di sekitar mulutnya. Penanganan spesies semacam itu diatur oleh otoritas lingkungan hidup Brazil, IBAMA.

Ribeiro bekerja sama dengan pakar biologi Beatriz Araujo, yang tugasnya memantau tingkat stres hewan itu dan memastikan pasiennya tetap aman. Belum pernah ada kecelakaan dalam 10 tahun perawatan, kata pusat itu.

Reptil yang dibesarkan di lokasi tersebut, sudah terbiasa dengan kontak manusia. Tidak ada ular beracun yang digunakan.

“Saya selalu di sini, kalau-kalau hewan itu bereaksi tak terduga,” kata Araujo.
“Ancamannya sama seperti kontak dekat dengan hewan apa pun.” [uh/ab]

Terima kasih sudah membaca artikel tentang Ular Jadi Hewan Terapi di Brazil yang tayang pertama kali di VOA. Lihat artikel menarik lainnya disini Dan bagikan jika artikel ini bermanfaat.

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button